Nilai-nilai Intangible (3) – Lanjutan

Assalamualaikum Wr. Wb,

Di hari Juma’at yang cerah ini di kampung saya, sekarang kita, Insya Allah akan melanjutkan tulisan tentang Nilai-nilai Intangible, kali ini dengan memperhatikan arahan dari owner milis pengusaha-muslim.com, khususnya untuk calon-calon pengusaha muslim dan muslimah yang diharapkan bisa menjadi pengusaha yang Smart.

Memang. ada dilema tersendiri yang bakal ditemui dan mau tidak mau musti dihadapi oleh calon pengusaha pemula, bisa jadi keinginannya untuk menjadi pengusaha dibatalkan karena takut risiko, takut dengan kemungkinan-kemungkinan buruk, namun bila kita maju terus untuk jadi pengusaha dengan modal yang pas-pasan, juga ngga ada jaminan kita bakal berhasil. Memang sih, … setiap orang punya hak buat takut dengan yang namanya risiko atau sebaliknya.

Maksud ana gagalnya, kalau kita umpamakan ingin menembak suatu sasaran tembak…  “Tembakan kita meleset”, ….. model yang kaya gini mah … biasa dalam bisnis. Akan tetapi, kalau kita gagal dalam arti “Kehabisan peluru”, atau “kehilangan sumber penghasilan” , lebih parah lagi “menanggung hutang”, atau karena waktu kita memulai berbisnis harus “meninggalkan pekerjaan” yang menjadi sumber utama penghasilan kita, udah pasti efeknya berbeda!

Nah, bagaimana kita mensiasatinya? (topiknya kang Imam neeh … Mencari solusi, Siasati masalah). atau cara kita berkelit dari dilema yang sulit seperti ini?  (kaya lagi silat ,,, pake berkelit segala), tapi kalau harus dijawab dengan tulisan … wah repot juga neeh, … bisa-bisa engga selesai-selesai nulisnya. Soalnya, ada sejumlah atau segudang jawaban, ditambah lagi… dengan sekian alternatif, dan sekian opsi (musti ada diskusi interaktif … dengan para pakar bisnis), namun tunggu dulu, barangkali ada yang ingat dengan istilah Street Smart? … iya betul … terjemahan sederhananya kurang lebih … “cerdas di lapangan“, atau, .. kalau kita lagi ngobrol santai membahas suatu persoalan dengan group kita, …. kadang terlontar kata-kata, …. Ach tenang aja, … dia khan “jam terbangnya” udah tinggi, jadi persoalan kaya gitu sih Insya Allah bisa diatasi.

Kalau ada rekan2 milis yang pernah mengikuti dialog interaktifnya Oom Bob (Bob Sadino) kira2 tahun 2003 di Majalah Manajemen, barangkali masih ingat (mudah2 memori disk ana … ngga lagi error … he…he.he). Gambaran aplikatifnya :

“Cukup satu langkah awal. Ada krikil kita singkirkan,. .. terus melangkah … Bertemu duri kita sibakkan, maju terus … Terhadang lubang kita lompati … maju terus …. Bertemu api kita mundur sebentar (tunggu apinya padam … barangkali maksudnya Oom Bob ..ya), maju terus …., Berjalan terus dan mengatasi masalah … “. Jadi dengan kata lain kecerdasan di lapangan (street smart) termasuk modal Intangible yang oke punya … (luar biasa perannya).

Balik ke si George (lihat episode 1), hasil survey yang menanyakan; Sejauh mana relevansi antara latar belakang pendidikan dengan profesi yang kita geluti sekarang (bisnis)?, kurang lebih hasil survey mencatat : hubungannya sangat dekat, ada juga yang menjawab relevansi itu tetap ada, ….. ada juga yang menjawab tidak ada sama sekali, …. tapi yang terbanyak jawabannya ; “street smart is more important in business than an advanced degree”.

Jadi yang diperlukan sekarang sudah mulai kelihatan, yakni kecermatan, keberanian (harus berani berubah), dan kesiapan kita.

Kita musti cermat, ,supaya terhindar dari yang namanya “Kegagalan dalam bentuk kehabisan peluru”, atau “menanggung hutang”. Namun… Upayakan!!!, risiko itu (bila harus terjadi), hanya berupa kegagalan dalam bentuk “meleset tembakan kita”, atau belum banyak untung … oke!

Maju terus kawan, … kita perlu keberanian untuk melawan ketakutan kita yang membisikkan teror “bagaimana nanti kalau gagal?”, … dan lain-lain. Maksud ana, selama ketakutan semacam itu belum bisa kita atasi, sebaiknya  … sembunyikan dulu keinginan kita untuk menjadi pebisnis (pengusaha). Dus.., jadi (sama ajang dong artinya dus … sama .. jadi), yang kita butuhkan sekarang adalah kesiapan mental untuk menumbuhkan bangkitnya kecerdasan yang namanya “Street Smart”.

Pebisnis harus kenyal seperti bola karet, biar jatuh berkali-kali …., harus tetap siap bangkit,  …. mengapa?

“Kita tidak pernah tahu, pada kali keberapa, kita sukses“, gambarannya, mungkin kita tersandung tiga kali, lalu berhenti. Bisa jadi pada kesempatan yang ke empatnya kita sukses, … jadi rugi dong kalau baru tiga kali kesandung kita berhenti … iya khan?, tapi ada juga yang sampai tua belum sukses-sukses …. hm..hm.. hm, contohnya ana aja deh ….he..he.. he, kalau sukses itu barometernya musti punya pesawat! … soalnya ana baru punya pesawat telepon, itupun udah ana sangat syukuri, soalnya banyak yang udah tua juga belum punya pesawat telp. …. yang penting kita harus pandai bersyukur, dan jangan lupa memohon pertolongan Allah SWT.

Beberapa pakar kepribadian, melontarkan gagasan soal perbedaan karakter manusia unggul dan tukang panggul, professional dan pekerja. Katanya, manusia unggul dan profesional, adalah mereka yang selalu berfikir bagaimana terus menerus meningkatkan kualitas, sehingga performance selalu meningkat. Mereka menjadikan akal pikiran sebagai imam atas perut. Makanya mereka selalu bekerja dengan cerdas di lapangan kehidupan manapun juga, (termasuk dalam dunia bisnis). Sebaliknya, tukang panggul yang sekedar pekerja, … pencari nafkah, dan jauh dari sikap professional, selalu menjadikan perut sebagai imam atas otaknya. Mereka selalu dikelilingi masalah, dan tak pernah berinisiatif mencari solusi atas masalah. Dan, enggan menggunakan kemampuan akalnya,… walaupun sebenarnya mereka-mereka bisa jadi mempunyai potensi kecerdasan.

Bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan manusia sebagai sesempurna mahluk. Punya otak dan punya hati, tak sekedar perut. Dan yang terpenting, sebagai insan beriman, kita punya Tuhan, yang selalu memelihara dan bersahabat dengan manusia yang optimistic, dan kita harus selalu pandai mencari solusi atas masalah yang timbul, mengembangkan gagasan segar dan cerdas, agar cepat keluar dari masalah yang dihadapi. Dan kualitas pebisnis tangguh akan nampak saat ia mengahadapi tantangan.

Selamat berjuang kawan, semoga Allah Ta’ala memudahkan jalan kita menuju kebaikan. Amin

Wassalamualaikum Wr. Wb,

Umar – Tukang Nasi

Tinggalkan sebuah Komentar

Nilai-nilai Intangible (2) – Lanjutan

Assalamualaikum Wr. Wb,

Sebenarnya topik ini muncul di milis pengusaha-muslim.com sewaktu owner milis menjawab pertanyaan salah seorang member milis beberapa waktu y.l, yang seakan mengorek memori yang sudah rada error ini, … bagaikan sebait syair lagu yang menyiratkan, “Nilai-nilai Intangible sulit diukur dengan uang”, saya cuma mengutip dari sana-sini (tukang kutip, … eh salah, tukang nasi kog). Ok, saya nyotek lagi dari artikel “Kebenaran” yang ada di webblognya pak Umar di blogdetik.com. , yang katanya, benar kata anta belum tentu benar menurut ana. Kalau dipaksakan kebenaran itu untuk jadi benar kita menerimanya atau mengakuinya, maka itu namanya “pemerkosaan akal” ….. he..he…he

Sempat ada yang menanyakan dalam forum sambil bercanda, makanan apa sih intangible itu? Kalau menurut kamus bahasa Inggris, terjemahan bebasnya, …. Hal-hal yang tidak dapat diraba, seperti misalnya cahaya, suara, aroma, dan yang seperti itu deh kira-kira. Tapi kalau dari sisi assets, katanya … Barang-barang berharga yang tidak dapat diraba, dan kalau dari sisi property, bilangnya sih … Harta milik yang tidak dapat diraba, atau yang tidak dinyatakan secara jelas (charm). Nah kalau katanya tukang nasi, …, harumnya atau wanginya aroma nasi kebuli karena inovasi cara pengolahan dan bumbunya, ….he…he…he, atau barangkali ada yang bisa kasih arti atau contoh lain, …. Silahkan tambahkan atau robah contoh ini di kolom komentar.

Keahlian menjalankan bisnis kalau engga ahli, maka buktinya bisa langsung nyata dalam bentuk antara lain :

“Gagal, rugi, tidak efektif, tidak efisien, tidak untung, dll”

Ada “kebenaran” umum (folk wisdom) yang kadang2 luput dalam pengamatan  kita. Alkisah, dulu kira-kira sepuluh sampai lima belas tahun yang lalu, …… ketika para taipan atau juragan2 dadakan banyak di negeri antah berantah, .. mereka kalau mau buka suatu bisnis atau usaha, cuma perlu sedikit meluangkan waktu untuk kumpul2 ngobrol sambil ngopi atau minum teh di suatu tempat …. (rahasia ya… tempatnya), dan disela-sela obrolan, si tuan A bilang gue mau bikin Jembatan sama kapal buat anu … hm…hm…hm, ana lupa siapa pemesannya, disitu ada tuan B yang langsung menimpali obrolan itu, “besinya ambil dari gue ya ..” , ah elo mana punya pabrik besi, sanggah si tuan A, tapi si tuan B bisa langsung berkelit “ah itu sih gampang punya, gua bisa bikin pabrik, … modal biar dikit-dikit gua ada, kurangnya biar gua pinjem di Bank, gua punya banyak temen di Bank, dan kalo soal tenaga ahlinya, … gue datengin dari sono”,

Nah tuh … mulai kelihatankan arah ceritanya kemana…, dengan kata lain, apa susahnya kita merekrut sarjana ahli lalu kita gaji untuk menjalankan bisnis kita, yang selanjutnya kita tinggal menerima untungnya saja…he..he. .he

Kebenaran umum seperti ini, memang benar menurut pihak yang memang memahami, tapi prakteknya …, sebenarnya tidak benar bagi kebanyakan orang. Mengapa? …., bagi mereka yang memang sudah memahami (ahli dalam memanage-orang) hal ini oke punya, akan tetapi bagi mereka yang belum punya keahlian “managing people”, sering kali kebenaran umum ini menjadi sandungan baginya (belum tentu benar). Maksudnya, rencana bisnis kita bisa tersendat atau bahkan gagal, karena kita tidak memiliki keahlian yang memadai dengan masalah yang kita akan hadapi,… lagi2 “intangible” .

Kalau ada yang mempertanyakan, lho kok … si tuan B bisa, … ah itu sih jawabannya gampang punya, …. itu khan dulu, yakni ketika mereka-mereka masih dikelilingi “power”, tapi sekarang lihat sendiri akibatnya (BLBI, … pembahasannya bukan disini tempatnya).

Kesimpulannya, menerjuni suatu usaha di bidang apapun memang butuh fulus, butuh fasilitas (tangible, kalo orang sono bilang, eta mah … Kudu), tapi belum dapat menjamin kelangsungan suatu usaha. Untuk point yang terakhir ini, lebih banyak ditentukan oleh modal intangible yang berlimpah, maksud ana “kualitas SDM” yang kita punyai atau miliki, dan yang sesuai dengan kualifikasi dengan bidang usaha yang kita geluti. Modal usaha inilah yang akan membawa atau menentukan, apakah kita akan menjadi pengusaha sebulan atau seumur hidup.

Idealnya sih kita punya modal tangible yang berlimpah, dan juga punya modal intangible yang oke punya, cuma sayangnya, keadaan ideal ini sangat jarang terjadi. Keadaan seperti ini (punya dua-duanya), biasanya terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab, dengan kata lain, sebagai sebuah hasil dari suatu proses. Tegasnya, Pengusaha yang memiliki keduanya, menurut kacamata ana, adalah pengusaha atau pebisnis yang tahu persis plus atau minus kaca matanya, sekarang udah min berapa?, atau plus berapa?, dengan kata lain pengusaha yang sudah kawakan dan telah matang dalam menjalankan atau mempertahankan usahanya hingga masih tetap eksis sampai hari ini, bukan orang atau pebisnis yang baru memulai merintis usaha.

Untuk orang yang baru memulai merintis usaha, problem umum yang dihadapi, adalah problem yang muncul sebagai akibat adanya keterbatasan, antara lain : terbatas modalnya, terbatas SDM-nya, terbatas fasilitasnya, terbatas dalam mengantisipasi perubahan, terbatas pelanggannya, dll. Karena itulah modal intangible jauh lebih perlu didahulukan.

Ok, posting dulu di milis, kayanya bakalan panjang neeh kisah nilai-nilai intangible sambil nyari contekan baru, dan sepertinya untuk kisah nilai-nilai intangible berikutnya, … contekannya musti yang berbau Smart …. soalnya lagi musim istilah smart sekarang. Biar agak ngetrend sedikit bahasa di pengusaha-muslim. Com, dan untuk pak Fadil, maaf ya, … topik ini ana nyotek dari kalimat antum di milis (ng’ga permisi dulu, …… jadi malu ketahuan yang punya istilah “Nilai-nilai intangible”…he..he..he)

Wassalamualaikum Wr. Wb,


Umar – Tukang Nasi

Tinggalkan sebuah Komentar

Resep Hidup Bahagia

Seandainya kita bertanya kepada orang-orang di sekeliling kita dari berbagai agama, bangsa, profesi dan status sosial tentang cita-cita mereka hidup di dunia ini tentu jawaban mereka sama “kami ingin bahagia”. Bahagia adalah keinginan dan cita-cita semua orang. Orang mukmin ingin bahagia demikian juga orang kafir pun ingin bahagia. Orang yang berprofesi sebagai pencuri pun ingin bahagia dengan profesinya. Melalui kegiatan menjual diri, seorang pelacur pun ingin bahagia. Meskipun semua orang ingin bahagia, mayoritas manusia tidak mengetahui bahagia yang sebenarnya dan tidak mengetahui cara untuk meraihnya. Meskipun ada sebagian orang merasa gembira dan suka cita saat hidup di dunia akan tetapi kecemasan, kegalauan dan penyesalan itu merusak suka ria yang dirasakan. Sehingga sebagian orang selalu merasakan kekhawatiran mengenai masa depan mereka. Terlebih lagi ketakutan terhadap kematian.

Allah berfirman dalam surat Al Jumu’ah ayat 8:

“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al Jumu’ah:8)

Banyak orang yang beranggapan bahwasanya orang-orang barat adalah orang-orang yang hebat. Mereka beranggapan bahwasanya orang-orang barat hidup penuh dengan kebahagiaan, ketenteraman dan ketenangan. Tetapi fakta berbicara lain, realita di lapangan menunjukkan bahwa secara umum orang-orang barat itu hidup penuh dengan penderitaan. Hal ini dikuatkan dengan berbagai hasil penelitian yang dilakukan oleh orang-orang barat sendiri tentang kasus pembunuhan, bunuh diri dan berbagai tindakan kejahatan yang lainnya, namun ada sekelompok manusia yang memahami hakikat kebahagiaan bahkan mereka sudah menempuh jalan untuk mencapainya. Merekalah orang-orang yang beriman kepada Allah. Mereka memandang kebahagiaan itu terdapat dalam sikap taat kepada Allah dan mendapat ridho-Nya, menjalankan perintah-perintahNy a dan meninggalkan larangan-larangan- Nya.

Boleh jadi di antara mereka yang tidak memiliki kebutuhan pokoknya setiap harinya, akan tetapi dia adalah seorang yang benar-benar bahagia dan bergembira bagaikan pemilik dunia dan segala isinya.

Allah berfirman,

“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya iti dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)

Jika mayoritas manusia kebingungan mengenai jalan yang harus ditempuh menuju bahagia maka hal ini tidak pernah dialami oleh seorang mukmin. Bagi seorang mukmin jalan kebahagiaan sudah terpampang jelas di hadapannya. Cita-cita agar mendapatkan kebahagiaan terbesar mendorongnya untuk menghadapi beragam kesulitan.

Terdapat berbagai keterangan dari wahyu Alloh sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang beriman bahwasanya dirinya sudah berada di atas jalan yang benar dan tepat Allah berfirman:

“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’aam: 153)

Jika di antara kita yang bertanya bagaimanakah yang dirasakan bagi orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka maka Allah sudah memberikan jawaban dengan firman-Nya:

“Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. “ (QS. Hud: 106-108)

Jika di antara kita yang bertanya-tanya bagaimanakah cara untuk menjadi orang yang berbahagia, maka Alloh sudah memberikan jawabannya dengan firman-Nya,

“Barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thoha: 123-124)

Dan juga dalam firman-Nya,

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Kebahagiaan seorang mukmin semakin bertambah ketika dia semakin dekat dengan Tuhannya, semakin ikhlas dan mengikuti petunjuk-Nya. Kebahagiaan seorang mukmin semakin berkurang jika hal-hal di atas makin berkurang dari dirinya.

Seorang mukmin sejati itu selalu merasakan ketenangan hati dan kenyamanan jiwa. Dia menyadari bahwasanya dia memiliki Tuhan yang mengatur segala sesuatu dengan kehendak-Nya.

Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh menakjubkan keadaan orang-orang yang beriman. Sesungguhnya seluruh keadaan orang yang beriman hanya akan mendatangkan kebaikan untuk dirinya. Demikian itu tidak pernah terjadi kecuali untuk orang-orang yang beriman. Jika dia mendapatkan kesenangan maka dia akan bersyukur dan hal tersebut merupakan kebaikan untuknya. Namun jika dia merasakan kesusahan maka dia akan bersabar dan hal tersebut merupakan kebaikan untuk dirinya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Inilah yang merupakan puncak dari kebahagiaan. Kebahagiaan adalah suatu hal yang abstrak, tidak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa diukur dengan angka-angka tertentu dan tidak bisa dibeli dengan rupiah maupun dolar. Kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan oleh seorang manusia dalam dirinya. Hati yang tenang, dada yang lapang dan jiwa yang tidak dirundung malang, itulah kebahagiaan. Bahagia itu muncul dari dalam diri seseorang dan tidak bisa didatangkan dari luar.

Tanda Kebahagiaan

Imam Ibnu Al Qoyyim mengatakan bahwa tanda kebahagiaan itu ada 3 hal. 3 hal tersebut adalah bersyukur ketika mendapatkan nikmat, bersabar ketika mendapatkan cobaan dan bertaubat ketika melakukan kesalahan. Beliau mengatakan: sesungguhnya 3 hal ini merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba dan tanda keberuntungannya di dunia dan di akhirat. Seorang hamba sama sekali tidak pernah bisa terlepas dari 3 hal tersebut:

1. Syukur ketika mendapatkan nikmat.

Seorang manusia selalu berada dalam nikmat-nikmat Allah. Meskipun demikian, ternyata hanya orang berimanlah yang menyadari adanya nikmat-nikmat tersebut dan merasa bahagia dengannya. Karena hanya merekalah yang mensyukuri nikmat, mengakui adanya nikmat dan menyanjung Zat yang menganugerahkannya. Syukur dibangun di atas 5 prinsip pokok:

  1. Ketundukan orang yang bersyukur terhadap yang memberi nikmat.
  2. Rasa cinta terhadap yang memberi nikmat.
  3. Mengakui adanya nikmat yang diberikan.
  4. Memuji orang yang memberi nikmat karena nikmat yang dia berikan.
  5. Tidak menggunakan nikmat tersebut dalam hal-hal yang tidak disukai oleh yang memberi nikmat.

Siapa saja yang menjalankan lima prinsip di atas akan merasakan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika lima prinsip di atas tidak dilaksanakan dengan sempurna maka akan menyebabkan kesengsaraan selamanya.

2. Sabar ketika mendapat cobaan.

Dalam hidup ini di samping ada nikmat yang harus disyukuri, juga ada berbagai ujian dari Allah dan kita wajib bersabar ketika menghadapinya. Ada tiga rukun sabar yang harus dipenuhi supaya kita bisa disebut orang yang benar-benar bersabar.

  1. Menahan hati untuk tidak merasa marah terhadap ketentuan Allah.
  2. Menahan lisan untuk tidak mengadu kepada makhluk.
  3. Menahan anggota tubuh untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak di benarkan ketika terjadi musibah, seperti menampar pipi, merobek baju dan sebagainya.

Inilah tiga rukun kesabaran, jika kita mampu melaksanakannya dengan benar maka cobaan akan berubah menjadi sebuah kenikmatan.

3. Bertaubat ketika melakukan kesalahan.

Jika Allah menghendaki seorang hamba untuk mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan akhirat, maka Allah akan memberikan taufik kepada dirinya untuk bertaubat, merendahkan diri di hadapan-Nya dan mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai kebaikan yang mampu untuk dilaksanakan. Oleh karena itu, ada seorang ulama salaf mengatakan: Ada seorang yang berbuat maksiat tetapi malah menjadi sebab orang tersebut masuk surga. Ada juga orang yang berbuat kebaikan namun menjadi sebab masuk neraka.” Banyak orang bertanya kepada beliau, bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi?, lantas beliau menjelaskan: Ada seorang yang berbuat dosa, lalu dosa tersebut selalu terbayang dalam benaknya. Dia selalu menangis, menyesal dan malu kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hatinya selalu sedih karena memikirkan dosa-dosa tersebut. Dosa seperti inilah yang menyebabkan seseorang mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan. Dosa seperti itu lebih bermanfaat dari berbagai bentuk ketaatan, Karena dosa tersebut menimbulkan berbagai hal yang menjadi sebab kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba. Sebaliknya ada juga yang berbuat kebaikan, akan tetapi kebaikan ini selalu dia sebut-sebut di hadapan Allah. Orang tersebut akhirnya menjadi sombong dan mengagumi dirinya sendiri disebabkan kebaikan yang dia lakukan. Orang tersebut selalu mengatakan ‘saya sudah berbuat demikian dan demikian’. Ternyata kebaikan yang dia kerjakan menyebabkan timbulnya `ujub, sombong, membanggakan diri dan merendahkan orang lain. Hal-hal ini merupakan sebab kesengsaraan seorang hamba. Jika Allah masih menginginkan kebaikan orang tersebut, maka Allah akan memberikan cobaan kepada orang tersebut untuk menghilangkan kesombongan yang ada pada dirinya. Sebaliknya, jika Allah tidak menghendaki kebaikan pada orang tersebut, maka Allah biarkan orang tersebut terus menerus pada kesombongan dan `ujub. Jika ini terjadi, maka kehancuran sudah berada di hadapan mata.”

Al Hasan al-Bashri mengatakan, “Carilah kenikmatan dan kebahagiaan dalam tiga hal, dalam sholat, berzikir dan membaca Al Quran, jika kalian dapatkan maka itulah yang diinginkan, jika tidak kalian dapatkan dalam tiga hal itu maka sadarilah bahwa pintu kebahagiaan sudah tertutup bagimu.”

Malik bin Dinar mengatakan, “Tidak ada kelezatan selezat mengingat Allah.”

Ada ulama salaf yang mengatakan, “Pada malam hari orang-orang gemar sholat malam itu merasakan kelezatan yang lebih daripada kelezatan yang dirasakan oleh orang yang bergelimang dalam hal yang sia-sia. Seandainya bukan karena adanya waktu malam tentu aku tidak ingin hidup lebih lama di dunia ini.”

Ulama’ salaf yang lain mengatakan, “Aku berusaha memaksa diriku untuk bisa sholat malam selama setahun lamanya dan aku bisa melihat usahaku ini yaitu mudah bangun malam selama 20 tahun lamanya.”

Ulama salaf yang lain mengatakan, “Sejak 40 tahun lamanya aku merasakan tidak ada yang mengganggu perasaanku melainkan berakhirnya waktu malam dengan terbitnya fajar.”

Ibrahim bin Adham mengatakan, “Seandainya para raja dan para pangeran mengetahui bagaimana kebahagiaan dan kenikmatan tentu mereka akan berusaha merebutnya dari kami dengan memukuli kami dengan pedang.” Ada ulama salaf yang lain mengatakan, “Pada suatu waktu pernah terlintas dalam hatiku, sesungguhnya jika penghuni surga semisal yang kurasakan saat ini tentu mereka dalam kehidupan yang menyenangkan. “

Imam Ibnul Qoyyim bercerita bahwa, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: `Sesungguhnya dalam dunia ini ada surga. Barang siapa belum pernah memasukinya maka dia tidak akan memasuki surga diakhirat kelak.'” Wallahu a’laam.

(Diterjemahkan dengan bebas dari As Sa’adah, Haqiqatuha shuwaruha wa asbabu tah-shiliha, cet. Dar. Al Wathan)

Makalah Studi Islam Intensif 2005. Disusun oleh: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar

Sumber : www.muslim.com

Tinggalkan sebuah Komentar

Nilai-nilai Intangible

Assalamualaikum Wr Wb,


Sambil nungguin dagangan yang lagi sepi pengunjung, iseng-iseng coret-coret kertas, … eh kog yang ketulis “Nilai-nilai Intangible”, kosakata ini kayaknya dulu sekali pernah akrab ditelinga, dan kebetulan ada yang melontarkan kata ini beberapa   waktu yang lalu di milis Pengusaha-Muslim.com. Ana jadi teringat Gorge Torok (The Yukon Spirit : Nurturing Entrepreneurs) .


Kata si Gorge yang melakukan penelitian para pengusaha (pebisnis), menyimpulkan bahwa tidak semua orang yang punya modal tangible bisa disebut pengusaha atau pebisnis. Bisa saja mereka menjadi pengusaha dalam waktu seminggu, sebulan, atau beberapa bulan ke depan tetapi selebihnya mereka bukan pengusaha lagi. …. Iya, banyak pebinis di negeri ini yang modalnya pas-pasan, tapi karena keadaan, … bisa jadi juga karena tidak ada pilihan lain terpaksa jadi pengusaha, atau para orang tua yang punya banyak fulus dan aneka fasilitas, menganjurkan atau mendukung anaknya jadi pengusaha aja, daripada kerja sama orang lain, ,,,, engga tega kalau anaknya diperintah-perintah sama orang lain kali ya …


Sebenarnya … pebinisnis (yang saya maksud disini bisnis owner) itu khan …wujud manusia yang berbeda, …… Mengapa?, … coba saja perhatikan atau cermati baik-baik,…. Mereka itu (pebisnis) adalah orang-orang yang berani, …… berani menghadapi risiko, engga kenal yang namanya kapok, tangguh, ngga kenal lelah …. apalagi kalau lagi kebanjiran order, atau paling tidak bila dibandingkan dengan orang-orang yang kerjaannya menunggu tanggal gajian. Pokoknya komplit, mereka itu juga termasuk penikmat kesatuan rasa,….


  • Ada rasa harap,
  • Ada rasa cemas,
  • Ada rasa penantian,
  • Ada rasa ketidak pastian, …. Macam-macam rasa deh ….

Menurut si Gorge, modal intangible yang dibutuhkan untuk menjadi pengusaha adalah :


  • · Memiliki dorongan batin yang kuat untuk maju (personal drive)
  • Memiliki fokus yang tajam tentang apa yang dilakukannya, dan kemana dia akan membawa usahanya (fokus)
  • · Memiliki kemampuan yang kuat untuk berinovasi (produk, sistem, cara, metode, service, dst … maaf kepanjangan)
  • · Memiliki sikap mental “saya bisa” (The I can mental attitude) dalam menghadapi persoalan-persoalan yang kedatangannya seperti tamu tak diundang
  • · Memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan (berdasarkan pengetahuan, pengalaman, skill, intuisi, dan akal sehatnya)
  • Memiliki kemampuan untuk “tampil beda” atau memunculkan keunggulan-keunggulan (kreatif)

Mengapa begitu?, saya eng’ga tahu alasan si George tentang spiritual-mistikal yang mengilhami para pengusaha itu, tetapi secara logika saja deh …, mungkin kurang lebih ada dua alasan yang barangkali bisa dipahami :


Pertama, seandainya kita punya modal tangible yang oke punya, tetapi kita tidak memiliki intangible yang juga oke punya, maka modal tangible kita bukan malah nambah, bisa jadi berubah jadi utang. Tapi kalau kita punya modal intangible yang berlimpah, sementara modal tangible kita pas2an, ini masih bisa diatasi (jual aja idenya, atau cari temen yg percaya sama kita, ajak kerja sama he.. he…he).


Kedua, “keahlian” tidak bisa dibeli, atau ngga bisa pinjem dari orang lain “you can not buy the skill to be great” (kalau pake bahasa kerennya). Dengan kata lain, uang bisa minjem, gedung buat kantor bisa sewa atau numpang di rumah mertua (kalau ada), pruduk kita bisa nge-sub dulu atau nga-genin, tapi keahlian menjalankan bisnis, ngga bisa kita beli atau pinjam. Paling2 kita pake tenaga ahli (bayar), tapi tetap saja keahlian itu punyanya si tenaga ahli tsb.


Lanjutan arikel ini, … Insya Allah akan segera di posting kesini, setelah di copy dari milis pengusaha-muslim.com


Wassalamualaikum Wr. Wb,


Umar – Tukang Nasi

http://kantinrasama la.multiply. com

Tinggalkan sebuah Komentar

Samudra Biru Syariah

Assalamulaikum Wr. Wb,

 

Nah, ..apa lagi neeh, … “Samudra Biru Syariah”. Macam2 aja ….

Eit, … sabar, … bukan macam2, … hanya semacam koq, ….

 

Strategi bisnisnya Prof. W. Chan Kim & Renee Mauborgne yang judulnya Blue Ocean Strategy”, dipublikasikan thn. 2005, diterjemahkan dalam 30 bahasa, dan terjemahannya sampai ke negeri ini thn 2006. Yakni, strategi bisnis yang menantang perusahaan untuk keluar dari samudra merah, dengan cara menciptakan ruang pasar yang belum ada pesaingnya, belum terjelajahi, ditambah penciptaan permintaan (demand), dan peluang pertumbuhan yang tinggi, … sehingga tidak terjadi kompetisi yang berdarah-darah (rada di dramatisir dikit, … biar seru kedengarannya … he…he)  … singkatnya begitu deh kira-kira.

 

“Bisnis Syariah”, bisa di-ibaratkan seperti apa yang digambarkan oleh Kim & Renee (ruang pasar sendiri), … kog begitu, … lha iya dong, di bisnis syariah ada sistem baru, disertai aturan-aturan yang belum banyak diketahui orang (kecuali kita-kita di milis ini, … ssst … ini rahasia lho, … buat kita-kita saja).

 

Ok, kita ambil perumpamaan, … di daerah kita ada gerobak jualan pisang goreng (atau apa saja yang penting dagangannya halal), dan penggemarnya banyak (laku keras dagangannya) , …. trus apa kita mau latah juga bikin usaha yang sama?, …. wah berat punya dong menyainginya. Nah kenapa kita ngga coba bikin pisang goreng syariah (dengan catatan kualitas dagangan kita tidak lebih rendah dari yang sudah ada sebelumnya), …. dengan mempromosikan dagangan kita bahwa yang belanja kita tebarkan senyum dan salam, karyawan atau karyawati yang mengenakan busana muslim/muslimah misalnya. Aneh?, … ngga juga dong.

 

Coba perhatikan, beberapa tahun belakangan ini, bisnis berbasis syariah menjadi fenomena baru, dan menjadi label tersendiri, ambil contoh, … Bank Syariah, Asuransi Syariah, Pegadaian Syariah, Super Market Syariah, …. masih banyak lagi bisnis-bisnis syariah yang akhir2 ini melambung usahanya. Walaupun sedang menjadi demam, tapi belum banyak orang yang mengenal lebih jauh, apa itu bisnis syariah. Satu point yang bisa kita petik dalam trend bisnis ini adalah : “biaya edukasi”, dan biasanya suatu bisnis yang baru dikembangkan (dimulai) itu memerlukan biaya edukasi, … apa itu?, yakni memperkenalkan bisnis atau usaha kita ke pangsa pasar (calon konsumen kita), tapi untuk kata syariah, …. kita sudah di bantu oleh para pengusaha- pengusaha besar yang lebih dulu meluncurkan atau memperkenalkan bisnis syariah, sedang kita hanya menumpang di label syariahnya saja (tapi usaha kita harus halal, kalau engga halal … ana sedih neeh .. buka rahasia).

 

Ide diatas bukan orisinil dari ana, …. ana hanya nyontek dari mana-mana, antara lain dari “Bisnis Syariah Mulai Dari Nol”. kalau menurut ana, nyontek ide dari mana-mana, … sah-sah saja, yang penting ana ngga mencuri, dan di perbolehkan sama yang idenya ana contek. Dan, .. ada lagi yang menggelitik di benak ana, yaitu :

 

“Kalau pengusaha itu memberikan lapangan kerja buat orang lain itu biasa, tapi pengusaha yang bisa melahirkan pengusaha-pengusaha baru itu yang patut kita jadikan contoh”.

 

Kenapa?, … coba kita hitung secara gampang saja, kalau seorang pengusaha bisa memberikan lapangan kerja buat 10 orang, tapi si pengusaha tsb juga bisa memberikan bimbingan kepada pengusaha baru sebanyak 10 orang, dan dari pengusaha baru itu bisa merekrut masing-masing 3 orang karyawan. Bandingkan jumlah tenaga kerja yang bisa dihasilkan :

1   Pengusaha (sendiri)                           = 10 tenaga kerja

10 Pengusaha Binaan @ 3 tenaga kerja = 30 tenaga kerja,

Coba hitung sendiri, kalau usaha binaannya berkembang, dst …..

 

“Dari kekuatan yang besar, melekat tanggung jawab yang besar juga”

 

 

Wassalamualaikum Wr. Wb,

Umar – Tukang Nasi

Kebenaran

Tinggalkan sebuah Komentar

Blue Ocean Strategy

Blue Ocean Strategy

(Strategi Samudra Biru)

Menurut Prof. W. Chan Kim : “Ini adalah A Way of Thinking”

Profesor Kim, adalah salah seorang ahli manajemen strategi. Blue Ocean Strategy merupakan buku pertamanya yang langsung laris manis diserap pasar di pelbagai penjuru dunia. Dipersiapkan tidak secara khusus, melainkan lewat kumpulan tulisan yang dibuatnya bersama Renee Mauborgne selama 15 tahun, Blue Ocean Strategy menggambarkan pergeseran paradigma dalam aksi strategis.


Untuk mengilustrasikan pandangannya, Kim dan Mauborgne membagi dunia strategi bisnis dalam dua samudra: red ocean dan blue ocean. Dalam red ocean, perusahaan fokus pada pertarungan di lanskap kompetisi yang sudah ada. Perusahaan saling bertempur hingga berdarah-darah. “It’s bloody. Red“, kata Kim.

Cara yang cerdas untuk menghadapi situasi ini, ia menjelaskan, adalah melompat ke blue ocean. Samudra biru adalah area baru yang diciptakan dengan kreativitas dan imajinasi. Di blue ocean inilah perusahaan menciptakan aturan main sendiri, menciptakan pasar sendiri dan membuat kompetisi berikut kompetitor yang baku hantam menjadi tidak lagi relevan.


Kim adalah guru besar Strategi dan Manajemen Internasional di INSEAD, Prancis. Sebelum ke INSEAD, ia menjadi guru besar di Michigan Business School. Di sinilah Mauborgne menjadi muridnya. “Jadi, kalau ditotal, saya dengan Renee sudah 20 tahun bekerja sama. She was my student. Tapi sekarang mitra,” kata Kim pada SWA dalam lift menuju tempat wawancara di Gloria Jeans Cafe, Hotel Ritz Carlton Lantai 26.


Kim dan Mauborgne mendirikan Value Innovation Network, komunitas global yang fokus pada praktek atas konsep-konsep inovasi. Mereka juga rajin melahirkan pemikiran- pemikiranya lewat artikel-artikel yang dikirim ke sejumlah harian dan majalah terkemuka. Tulisan mereka berdua, “Value Innovation” di Harvard Business Review (1997), bahkan menjadi salah satu artikel paling laris. Lebih dari setengah juta kopi terjual (cetak ulang), dan setelah Blue Ocean Strategy terbit, sejumlah pihak mengelu-elukannya. Sunday Times, misalnya, menyebut Kim dan Mauborgne sebagai “two of Europe‘s brightest business thinkers”. Sementara The Observer menjuluki mereka dengan “Next big gurus to hit business world”.


Kim, juga adalah board member Value Innovation Action Tank, lembaga nirlaba yang anggotanya terdiri dari 15 kementerian dan lembaga di Singapura, dan sebagai founding partner. Kim bahkan disebut-sebut sebagai salah seorang konsultan PM Singapura B.G. Lee.

Dan apa kata para pakar strategi bisnis :

Jika Anda telah puas dengan kondisi bisnis Anda yang sekadar hanya bisa bertahan hidup, tidak perlu mempelajari strategi bisnis Kim dan Renee. Namun, jika Anda ingin melakukan perubahan, menciptakan sebuah perusahaan bermasa depan menguntungkan bagi pelanggan, karyawan, pemegang saham, dan masyarakat, Pelajari ini!, berikut sekelumit tentang buku Blue Ocean Strategy;

Sejak dulu, perusahaan-perusahaan terlibat dalam kompetisi-langsung satu sama lain demi mengejar pertumbuhan yang langgeng dan menguntungkan. Mereka bertarung demi keunggulan kompetitif, mereka berebut pangsa pasar, dan berjuang menciptakan diferensiasi. Padahal, dalam industri-industri yang padat penghuni dewasa ini, berkompetisi langsung tak lain hanya menghasilkan “samudra merah” berdarah-darah dari perebutan para rival diatas genangan laba yang kian menyusut.

Kerangka perubahan ini menantang perusahaan-perusahaan besar maupun kecil, pemula maupun papan atas, publik maupun privat, berteknologi tinggi maupun rendah, untuk keluar dari status quo, menciptakan strategi masa depan yang gemilang, dan menerapkan penjauhan diri dari kompetisi dengan biaya rendah, yang menekankan penciptaan ruang pasar yang belum ada pesaingnya, fokus pada penumbuhan permintaan dan gerak menjauh dari kompetisi, serta upaya memaksimalkan kesempatan sekaligus meminimalkan risiko.

Dengan menjungkalkan pemikiran tradisional tentang strategi, Kim dan Renee telah memetakan “sebuah jalur baru dan berani untuk memenangi masa depan.” Mereka menawarkan enam prinsip yang dapat digunakan oleh setiap perusahaan untuk merumuskan dan menerapkan strategi samudra biru dengan sukses :

  1. Cara merekonstruksi batas-batas pasar,
  2. Berfokus pada gambaran besar,
  3. Melampaui tuntutan yang ada,
  4. Merancang rangkaian strategi dengan benar,
  5. Mengatasi rintangan-rintangan organisasional,
  6. Mengintegrasikan ekskusi ke dalam strategi.

“Ciptakan ruang pasar tanpa pesaing, dan biarkan kompetisi tak lagi relevan”

Berikut ini adalah petikan wawancara wartawan SWA Teguh S. Pambudi, Tutut Handayani dan Sarah serta fotografer Hendra Syaukani dengan ayah dua anak ini, seorang imigran (Kim pindah dari Korea, tanah kelahirannya, ke Amerika Serikat) yang menjadi anggota Thinkers 50, daftar prestisius “The most influential economic thinkers” di dunia.

Apa yang luput dari perusahaan ketika ingin menerapkan strategi Blue Ocean?


Satu hal yang harus dicamkan, perusahaan sering tidak tahu dan tidak paham posisinya di mana. Apakah di red ocean atau blue ocean? Kebanyakan perusahaan tak tahu di mana mereka berada sekarang. Memang, ada yang meyakini dirinya harus berada di posisi blue ocean sejak awal berdiri. Perusahaan ini merasa harus melakukan pembaruan dan beradaptasi dengan perubahan yang ada, terlebih setelah melihat banyak pesaing melakukan hal yang sama, dan persaingan itu sendiri sudah sampai tahap saling menjatuhkan. Namun, mereka tak tahu di mana mereka berada sekarang.

Akan tetapi, di sisi lain, sebagian besar perusahaan merasa tidak perlu melakukan sesuatu untuk beradaptasi dengan perubahan di sekelilingnya. Perusahaan seperti ini sudah merasa puas dengan segala pencapaian yang ada, terlebih jika sering menjadi nomor satu di industrinya. Mereka berpikir, mengapa kita harus menerapkan strategi Blue Ocean sementara kita bahagia dengan apa yang kita raih!


Dan bukankah lebih banyak yang bersikap me-too atau peniru?

Benar. Banyak sekali perusahaan yang melakukan tindakan me-too (saya juga) atau peniru. Akan tetapi, meski melakukan itu, saya rasa dan yakin mereka tidak menyukai tindakan me-too dalam arti sesungguhnya. Namun sering, situasi dan kondisi pasar yang membuat mereka harus melakukannya. Me-too acap kali dilakukan secara spontan dengan tujuan mempertahankan diri di tengah persaingan. Alasan lain melakukan me-too, ini adalah “mudah dilakukan”. Hanya diperlukan pengamatan yang jeli tentang apa saja yang sudah dilakukan oleh pesaing yang sukses dengan produknya.

Namun, apa pun alasannya, bersikap blue ocean itu harus dilakukan untuk kelanjutan perusahaan di masa depan. Blue ocean is something required to do in the future.

Anda yakin strategi Blue Ocean menjadi cara ampuh buat perusahaan untuk sukses?


Absolutely. Namun, satu hal yang wajib diperhatikan adalah bahwa Blue Ocean merupakan sikap. Sikap untuk melihat kenyataan bahwa jika ingin memenangi persaingan secara elegan, kita harus selalu bersikap kreatif sehingga mampu menciptakan pasar baru yang membawa dan memberi nilai tambah bagi pelanggan. Strategi Blue Ocean adalah cara berpikir (a way of thinking), yang mendorong kita lebih kreatif, menciptakan nilai tambah dan mampu menciptakan hal baru.


Kalau begitu, bisakah strategi ini diterapkan di luar kehidupan perusahaan?

Ya. Saya yakin sekali strategi Blue Ocean bisa diterapkan di mana pun. Anywhere, anything. Karena apa? Karena, ini cara pikir. Bahkan, strategi ini bisa diterapkan pada pengembangan karier individu,.” Blue Ocean adalah menciptakan hal baru yang membuat Anda spesial dan berbeda”. Itu cara pikir. Aplikasinya dalam bisnis, hal baru yang kita ciptakan itu adalah sesuatu yang bernilai dengan diimbuhi biaya yang efektif.


Kembali ke perusahaan. Kalau begitu, apa cara terbaik yang harus dilakukan perusahaan untuk menerapkan strategi Blue Ocean?


Kita harus mampu mengidentifikasi posisi diri terlebih dulu. Kita harus tahu, di mana kita berdiri sekarang. Perusahaan harus mampu dan paham benar posisi dirinya ada di mana di dalam industri yang ditekuni. Atau, yang saya sebut sebagai canvassing. Dengan demikian, kita akan menyadari bahwa kita tidak sendirian di dalam industri yang kita tekuni. Kita punya banyak pesaing.

Setelah itu, kreativitas dan imajinasilah yang bekerja. Bergerak dari posisi sekarang, “as is”, menuju sesuatu yang diinginkan, “to be”. Di sini, hanya ada dua poin utama yang harus kita perhatikan. Fokus pertama, kita harus bisa melihat sebuah alternatif dari yang bisa kita tawarkan pada konsumen sesuai dengan kebutuhan mereka. Kedua, jangan hanya fokus pada konsumen kita terus. “Pikirkan non pelanggan”. Kita harus mencoba mencari tahu bagaimana diri kita dari orang-orang yang selama ini bukan menjadi konsumen atau terlupakan menjadi konsumen kita, padahal mereka adalah pasar yang potensial digali lebih dalam lagi. Non pelanggan adalah sumber market insight yang potensial bagi lahirnya blue ocean, mengingat mereka bisa melihat sesuatu lebih objektif.


Apa tantangannya dalam hal ini?


Membuat sesuatu yang baru tidak menjadi agenda seseorang yang merasa lebih mudah dengan cara meniru. Berada di blue ocean dengan menciptakan sesuatu yang baru membutuhkan metodologi dan perangkat sistematis yang membutuhkan usaha serta kerja yang jauh lebih keras dibandingkan dengan tindakan me-too. Selain itu, tindakan blue ocean juga lebih berisiko tinggi karena belum kelihatan seperti apa peta persaingannya kelak. Sementara bertindak me-too, kita sudah bisa melihat kira-kira seperti apa peta persaingannya , sehingga lebih mudah menyesuaikan sekaligus mengantisipasi persaingan.   Jika Anda suka persaingan, Anda akan cenderung melakukan tindakan red ocean alias bersaing secara terbuka dengan melakukan tindakan me-too atau meniru apa saja yang dilakukan kompetitor.


Persoalannya, jika sebuah perusahaan berhasil menemukan blue ocean, atau sesuatu yang baru, biasanya kemudian diikuti kompetitor. Lantas, haruskah perusahaan memproteksi blue ocean-nya itu?


Ya, sepanjang perusahaan itu bisa melakukannya. Namun, menurut saya, kita tidak bisa terus memproteksi blue ocean yang sudah berhasil kita temukan. Alasannya? Kecenderungan sikap meniru sesuatu yang dipandang sukses dan berhasil itu besar sekali dilakukan seseorang atau perusahaan pesaing. Terlebih, jika mereka punya uang banyak, mudah saja bagi mereka menirunya secara utuh atau habis-habisan. Karena itu, tantangannya adalah menciptakan terus blue ocean baru.


Sebenarnya, berapa lama perusahaan bisa mengeksploitasi blue ocean yang mereka ciptakan?


Dari riset saya selama 15 tahun atas 150 perusahaan yang kemudian melahirkan blue ocean, masa eksploitasi itu amat bervariasi. Namun kalau kita rata-rata, perusahaan bisa mengeksploitasi blue ocean selama 10-15 tahun. Di industri yang monopolistis, waktunya bisa saja lebih lama dari itu. Namun, di industri yang teknologinya dinamis, masa eksploitasi itu bisa lebih cepat lagi. Saya tak bisa menyebutkan berapa lama karena amat variatif. Contohnya, apa yang dilakukan Apple lewat iPod bisa ditiru perusahaan lain dalam hitungan waktu yang cepat, tak perlu tahunan.


Nah, Anda katakan perusahaan harus memproteksi blue ocean sepanjang dia bisa melakukannya. Caranya?


Lihat Starbucks. Menurut saya, langkahnya cukup baik dalam hal ini. Begitu mendapati kompetitor lain mengikuti, Starbucks berekspansi ke tempat lain. Jadi, langkah pertama adalah extending geographically. Selanjutnya, Starbucks menyajikan aneka menu yang variatif. Jadi, langkah kedua adalah menciptakan produk yang variatif. Tujuannya, proliferasi produk.


Menurut Anda, siapa yang paling berperan dalam menciptakan dan menerapkan strategi Blue Ocean? CEO, manajer, atau siapa?

Blue Ocean dapat berada di semua level: individual, divisi, manajerial dan eksekutif. Blue Ocean juga dapat diimplementasi di lingkungan korporasi atau nonkorporasi. Karena, lagi-lagi, ini adalah cara pikir.

Dalam konteks perusahaan, siapa pun di suatu perusahaan bisa menjadi penemu blue ocean. Level CEO tentu menciptakan blue ocean pada aspek strategi. Di level manajerial, misalnya di bagian pengembangan produk, manajer produk harus mampu menemukan produk blue ocean. Level karyawan pun bisa menghasilkan ide blue ocean. Akan tetapi, memang akhirnya CEO, sebagai penentu kebijakan dan arah perusahaan, yang paling bisa membuat blue ocean itu dapat diandalkan. Bahkan, CEO adalah yang bisa menentukan: perusahaannya ingin tetap berada di dalam red ocean, bahkan terus-menerus,  ataukah ingin berada di blue ocean.

Jika CEO tidak meyakini pemahaman blue ocean, biarpun manajer produk sudah bersikap dan menemukan suatu blue ocean, otomatis tidak akan bisa diterapkan di dalam perusahaan itu. Jadi, menurut saya, strategi Blue Ocean harus menjadi agenda CEO, sekalipun setiap orang di level apa pun dalam perusahaan dapat menemukan blue ocean.


Sebetulnya, apa motivasi Anda menulis buku Blue Ocean Strategy?

Saya adalah profesor di bidang strategi. Selama ini orang berpikir, strategi adalah sesuatu yang sifatnya berkompetisi, bertempur dan berpikir menang-kalah. Saya ingin membuka paradigma baru bahwa strategi tidaklah selalu seperti itu. Bahwa kita tidak mesti selalu menghadapi persaingan dengan sikap head-to-head, saling menjatuhkan.

Saya ingin memotivasi orang, khususnya pelaku bisnis, agar lebih bersikap menang-menang dalam berhubungan dengan rekan bisnis, bahkan dengan pesaing terberat sekalipun. Sebab, suatu saat kita akan membutuhkan pesaing agar bisa membuat bisnis kita lebih maju lagi. Bagaimana kita bisa menilai apa yang kita lakukan itu sudah baik kalau kita tidak punya pembandingnya? Persaingan yang sehat itu akan memotivasi kita selalu lebih baik dan kreatif lagi! Sederhana, tetapi sulit dilakukan karena banyak orang yang lebih suka bersaing dan saling menjatuhkan.

Saya ingin mengajak orang melihat bahwa kalau kita perhatikan, dunia tidaklah terus menyempit dan menciut. Kalau kita amati, dari masa ke masa, industri justru terus melebar, tak menciut. Ini terjadi karena lahirnya blue ocean-blue ocean di luar apa yang orang katakan sebagai kompetisi. Anda tahu apa yang terjadi, katakanlah pada 2010? Siapa yang akan menikmati tahun itu? Apakah mereka yang sekarang bertempur di red ocean? Saya kira tidak. Justru mereka yang sekarang menciptakan blue ocean yang akan memetiknya. Jadi, saya ingin orang bercara pandang seperti itu.


Kenapa dinamai Blue Ocean? Bagaimana ceritanya?


Kalau kami sedang jenuh, saya dan Renee berjalan-jalan di hutan di sekitar Paris. Di sana kami ngobrol-ngobrol. Nah, ketika itu kami ingat bahwa orang Inggris kalau mengeluhkan tentang kompetisi yang ketat, berkata begini, “Ah, it’s bloody competition.” Kami pikir bloody adalah darah. Lantas, orang harus keluar dari daerah ini. Pindah. Kami menemukan padanannya dengan ocean. Karena darah berwarna merah, itu red. Darah mencerminkan persaingan yang saling menjatuhkan dan mematikan. Jadi,  tempat baru itu adalah blue, yang identik dengan suasana damai dan tenang.


Banyak yang menyebut konsep Anda mirip-mirip yang dikeluarkan Hamel dan Prahalad, Strategic Architecture. Pendapat Anda?

Saya tidak terlalu tahu tentang itu. Banyak yang mengidentikkan konsep saya dengan konsep Diferensiasi. Dan saya bisa jelaskan bahwa Blue Ocean bukan sekadar berbeda, tapi ada unsur inovasi nilai di dalamnya. Dalam Blue Ocean, perbedaan itu bukan sekadar berbeda, tapi bisa mengeliminasi biaya sehingga menjadi lebih murah, dan tetap memberi nilai tambah.


Nama itu, Blue Ocean, begitu seksi. Ini bagian dari strategi pemasaran Anda?

Oh, tidak. Motivasi saya adalah seperti yang saya utarakan sebelumnya, bahwa orang sebaiknya mengubah cara pandang tentang kompetisi. Kalau katakanlah buku ini laris, saya pikir saya beruntung mendapatkan nama itu. Namun, cobalah Anda ke toko buku. Begitu banyak judul yang indah-indah. Menurut saya, orang membeli buku lebih karena substansi. Bukan semata judul yang terlihat seksi. Bahkan, saya tak pernah berpikiran memasarkan buku ini. Saya lebih ingin menawarkan paradigma berpikir yang baru.


Sejak kapan Anda berniat membuat buku ini?


Satu hal yang mesti saya tegaskan, saya tak pernah sengaja berniat menulis buku. Sejak 15 tahun lalu, saya memikirkan strategi dan kompetisi yang berdarah-darah ini. Kemudian saya, bersama Renee, menulis sejumlah artikel. Dari situlah, dan lewat riset, kami memperbaiki temuan, hipotesis, sampai akhirnya kami menyebut strategi Blue Ocean. Bagi kami, strategi Blue Ocean adalah sebuah teori.


Strategi Blue Ocean telah mengilhami sejumlah konsultan untuk menawarkan jasa konsultasi berembel-embel “Siap memberi jasa Blue Ocean Strategy“. Apa Anda semakin sering ditanggap perusahaan? Siapa saja yang menjadi klien?


Saya sudah lama memberikan jasa Blue Ocean ini sejak lama, karena inti-inti pemikiran saya telah saya buat lama, sejak artikel di Harvard Business Review. Klien kami cukup banyak. Dan kami bergerak lewat Value Innovation Network. Kalau soal nama Blue Ocean itu, ha-ha-ha, ya, memang itu sangat populer. Cari saja di Internet.


(Kim menolak menyebutkan nama-nama perusahaan yang menjadi kliennya. Namun, seorang mantan eksekutif Samsung Indonesia mengatakan, Samsung adalah salah satu klien Kim. Mungkin karena sama-sama Korea, Kim merasa terpanggil membantu Samsung. Barangkali atas bantuan pemikiran Kim pula, Samsung bisa menjadi begitu inovatif, dan sanggup menggeser Sony.)

Sumber : Majalah Swa, Bisnis Indonesia, CEO Bulletin



Posting : H. Umar Hapsoro Ishak

Tinggalkan sebuah Komentar

Nasi Goreng Kambing Spesial

Bahan :

2 piring nasi putih dingin, 150 gr daging kambing (pilih bagian yang empuk), dipotong sesuai selera, 2 btr telur dibuat orak-arik, 1 btg daun bawangn (iris halus), 6 bh cabai rawit (iris kasar), 100 ml air.

Bumbu yang dihaluskan :

4 bh cabai merah keriting, 7 siung bawang merah, 4 siung bawang putih, 3/4 sdt garam.

Bumbu Lainnya :

1/2 sdt pala bubuk, 1 sdt merica bubuk, 4 sdm kecap manis.

Bahan Pelengkap :

Acar mentah, irisan tomat merah, bawang goreng, emping goreng.

Cara membuatnya :

Tumis bumbu yang dihaluskan hingga harum, kemudian masukan daging kambing (aduk hingga berubah warna), tambahkan daun bawang, cabai rawit, dan air (masak hinggagdaging matang dan air habis). catatan : api jangan terlalu besar.

Selanjutnya, masukan nasi putih (aduk hingga rata), kemudian tambahkan telur orak-arik, pala bubuk, merica bubuk, dan kecap manis (aduk hingga rata). Masak hingga bumbu meresap dan nasi panas.

Hidangkan Nasi Goreng Kambing dengan pelengkapnya. Selamat makan …

Menu lainnya ada di http://kantinrasamala.multiply.com

Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.